Ribuan kunang-kungan fana

Aku berkaca pada malam aku melihat bayangan yang indah tentang aku dan kamu yang dahulu berjalan di tempat itu. Ribuan kunang-kunang fana berkedap-kedip seakan memberiku tanda untuk tersenyum dan tertawa, seakan mengajak ku bicara padanya. Angan ku melayang menembus jutaan cahaya dan membawa ku menuju suatu waktu saat aku dan kamu di tempat itu berjalan bersama berdua. Saat ini aku di tempat itu dan kamu sungguh aku tak bisa menemukan mu, entah tak ada yang tahu kamu dimana.

Saat ini aku hanya terdiam di sini, di tempat ini. Menunggu suatu hal yang tak pernah pasti, aku duduk di balkon rumah sahabat ku, pemandangan yang indah sungguh indah, ribuan kunang-kunang fana berkedip memandangi ku. Tau kah kamu, saat ini satu hal yang aku fikirkan hanya kamu, tak lebih hanya kamu. Saat aku melihat cahaya itu aku teringat betapa jauhnya cahaya itu sehingga hanya berupa titik yang bercahaya, sama dengan bintang, letak nya yang jauh sehingga hanya dapat memancarkan sebuah titik indah yang bersinar memberi aksen dalam pekat nya langit malam. Aku duduk terdia di antara kedua teman ku, salah satu teman ku mengambil gitar dan memainkanya, aku bersenandung dalam hati, bersenandung untuk kamu.

Aku terhanyut akan damainya malam ini dan Ribuan Kunang-Kunang Fana yang nampak jelas di hadapan ku ini, tiba-tiba aku mendapatkan sebuah pesan di Hp ku, lalu aku lihat nama kamu, ah senangnya, lalu aku melihat isi pesan tersebut.

“Hai, lagi apa? Apa aku mengganggu?”, tanya mu dalam pesan itu,

Cukup dengan sapaan kamu yang seperti ini pun aku bahagia sangat amat bahagia, lalu dengan cepat aku membalasnya

“Aku, baik-baik ko, kamu gimana ? Jelas kamu ga mengganggu”, jawab ku dengan penuh harap,

Aku harap kamu balas secepatnya. Lama sudah aku terdiam di sini dan ahirnya Hp ku bergetar, dan itu pesan dari kamu lagi aku senang bukan main, lalu aku baca pesan mu itu,

“Aku baik, Sejujurnya aku kangen dengam mu”

Aku sedikit terhentak dan semakin terhanyut dalam keadaan, ini kali pertama nya aku mendengar mu mengatakan itu lagi.

“Apa aku salah dengar?”, tanya ku penasaran dan dengan cepat dia membalas

“Sama sekali ga ko”, jawabnya singkat dan dengan cepat dia mengirim ku pesan lagi,

“Aku telfon kamu ya?”, tanyanya yang semakin menggelitik perasaan ku,

“Asik aku tunggu ya”, balas ku

Aku tersenyum girang aku melihat Hp ku tanpa henti menanti telfon dari kamu, sampai ahirnya Hp ku berdering dan ah begitu senangnya itu dari kamu.

“Hai, ahirnya bisa nelfon juga”, sahutn ya,

“Iya, akhirnya bisa denger suara kamu lagi, ada apa?”, tanya ku,

“Iya maaf, aku juga seneng bisa denger suara kamu lagi”
“Ee..eh, kamu lagi apa?”, tanya ku yang lagi-lagi berubah menjadi canggung

“Aku lagi duduk di kamari, dengerin lagu, baca buku”

“….. nyanyi yaa nyanyi”, pinta ku

“Hahaha nyanyi apa?”, jawabnya sambil tertawa

“Nyanyi yang dulu suka kamu nyanyiin ya”, pinta ku lagi

“Nanti ah nanti ya”, jawabnya

“Okey nanti nyanyi buat aku ya sekali lagi”

“Okey”

Percakapan kami berjalan cukup lama, bukan hal-hal yang terlalu menarik, hanya saja kata-kata yang rindu aku dengar lagi, yang sedikit bisa mengobati perasaan ku.

“Okey.. okey aku nyanyi buat kamu”

“Asik !”

“Tapi kamu juga ya nanti”

“Iya aku nanti nyanyi buat kamu juga”

“okey dengerin”

 Kamu mulai dengan petikan gitar yang bisa aku dengar jelas, lalu kamu mulai bernyanyi, hingga aku meneteskan air mata di sini…Lagu itu, nyanyian mu itu, dan tangisan mu yang terdengar oleh ku, apa kamu juga menangis di sana karena ini ? karena semua perasaan ini ? kamu juga lelah ya, maaf pintaku sunggung aku minta maaf. Ia selesai menyanyikan lagu untuk ku, aku tersenyum puas, aku pun menepati janji ku aku menyanyikan sebuah lagu untuk kamu.

Malam semakin larut hingga ahirnya kamu lelah dan mengahiri percakapan, aku juga tak dapat menolaknya, andaikan kamu hanya menelfon ku lia menit pun aku tak masalah karena saat itu hanya itu obat dari sakit ku ini, yang menjalar ke seluruh tubuh dan bersarang di tubuh ku. Aku sangat berterimakasih atas Telfon mu tadi, aku sangat amat senang.

Aku memejamkan mata ku dan aku membuka mata ku lagi, aku menemukan diri ku yang sembab mata ku yang memerah, bengkak, dan wajah ku yang penuh air mata, tuhan ternyata tadi hanya hayalan ku saja, dan jujur hanya itu yang aku ingin kan, teman ku menatap ku memelas, aku masih meneteskan air mata ku dan semakin keras menangis. Aku pelan-pelan menceritakan cerita ku dan tersenyum, lalu berkata

“Entahlah, Lampu-lampu di sana itu hanya seberkas cahaya yang menunjukan betapa jauhnya tempat ini dengan tempat itu, ini membuat ku berhayal, dan mengibaratkan tempat itu tempat nya, jauh, tak terjangkau, dan tak terbayangkan, seperti cahaya itu, sangking jauhnya mereka hanya nampak sebuah titik cahaya yang indah yang bertaburan di mana-mana, ah lampu-lampu itu bagaikan kunang-kunang yang fana”,Air mata ku masih mengalir,

“Ya, Ribuan kuna-kunang fana yang membuat ku berimajinasi tinggi akan dirimu, Ribuan kunang-kunang fana”. 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s