random story : part 1

               “seoul seems nice to you?” laki-laki itu berdiri di samping ku sambil menawarkan secangkir coklat panas padaku,

                “I don’t know, i wanna try to make my self comfort in here, but i guess i’m not really smart to lie” jawab ku,

                “Hmm it’s okay everything need a proses right, anyway can i do something that will makes you comfort now?” tanyanya

                “Molla, since you can’t speak Indonesia, i don’t know how long i’ll be feeling frustated like this, can’t even speak normal like before, it’s even makes me more and more uncomfort” aku menundukan kepalaku hingga menyentuh lutut ku,

                “Ja..di kamu fi..kir kalau aku belum lancar bahasamu?” jawabnya dengan bahasa Indonesia

                “Kamu! Gimana caranya kamu bisa secepet itu belajar ?!” tanya ku kaget

                “Come on, i only need three days to learn english, bahasa kamu lebih mudah dari yang aku kira” jawabnya semakin lancar,

                “Kamu… tapi kenapa kamu belajar bahasa?” tanya ku heran

                “Aku ini tetanggamu, aku yang di tugaskan membantu kamu selama kamu disini, sebelum kamu benar-benar asing dan muncul di layar TV, aku fikir aku harus lebih banyak berkomunikasi dengan mu, jadi aku belajar selama kamu kembali ke Indonesia” jawabnya lagi

                “Aku aja butuh enam bulan buat belajar bahasa kamu, jenius, baguslah kalau gitu jangan bicara dengan bahasa korea lagi kalau dengan ku, mengrti?” tanyaku senang

                “Iya, baiklah tapi ini harus jadi semangat buat kamu belajar bahasa ku lagi” jawabnya sambil melepar buku pelajaran bahasa Korea pada ku,

                “YA!!!! YOU….Aigoo” buku itu terlempar tepat di cangkir coklat yang dia berikan padaku, dan kini hampir seluruh baju ku berwarna coklat.

               …

                Malam ini aku pulang ke apartemen ku dengan baju yang kebesaran dan bukan sedikit yang nampak melihat ku dengan aneh, jelas bagaimana tidak ia meminjamkan kemejanya pada ku, dan ia hanya menutupi badanya dengan jaketnya, dia fikir aku ini apa?, beraninya membuat ku malu, orang akan mengagapku apa sekarang ini pulang dengan baju nya dan ia hanya memakai jaket di malam hari, sungguh memalukan.

                “Aku akan kembalikan baju mu besok”

                “Baiklah, maaf ya aku ga sengaja” jawabnya sambil membuka kan pintu apartemen ku,

                “Yasudah, cepat masuk makin malu aku kalau ada yang lihat lagi” jawab ku

                “Malu? Kalau gitu harusnya aku sekalian saja pinjamkan jaket ku padamu, mungkin aku juga yang lebih malu” jawabnya dengan nada kesal

                “Kenapa tidak?! Sudahlah aku lelah” aku masuk kedalam apartemen ku.

                Aku mengganti baju ku dan mencuci bajunya, hari ini entah mengapa membuat ku sedikit nyaman, dan kenapa itu selalu terjadi saat aku dekat denganya, aku rasa ini hanya sugesti ku. Aku kembali ke depan laptop ku, memasang headset ku dan mulai menulis lagi, aku melihat foto yang terpajang di sebelah laptop ku, aku rindu sahabat ku di Indonesia mungkin semua akan beda kalau mereka semua ada disini, mungkin.

               …

                Pagi ini udara Seoul cerah, dan masih dingin seperti biasanya, aku berjalan menuju sekolah dan lagi-lagi tak pernah melepas headset ku. Orang-orang di sini tidak seperti di Indonesia mereka memilih berjalan atau bersepedah ke sekolah, dan harus aku akui sekolah ku cukup jauh tapi entah mengapa di sini aku nyaman berjalan ke sekolah. Pagi hari kelas sudah ramai, lebih ramai dengan adanya laki-laki yang duduk di sebelah ku yang selalu dapat sebatang coklat dengan pita merah muda di mejanya, nampak sombong, dan pendiam.

                “Kamu? Bukan murid lama kan?” tanya nya dengan muka penasaran

                “Aaa.. aku? Bukan bukan aku murid baru, mungkin baru satu bulan di sini” jawab ku heran sejak kapan ia sadar aku di sini bahkan satu minggu aku satu kelas denganya aku nampak seperti bangku kosong yang tak berpenghuni,

                “Aah maaf aku baru menyapa mu, aku sangka kamu murid yang biasa duduk di situ ternyata wajah mu berbeda jadi aku fikir kamu murid baru” jawabnya dengan ekspresi yang berubah menjadi ramah dalam sekejap,

                “Ha..ha… ga apa memangnya siapa yang dulu duduk disni?” tanya ku penasaran

                “Sahabat ku” jawabnya lalu diam,

                Aku kehilangan pertanyaan ku, ia diam seperti robot yang habis baterai nya, jadi aku hanya diam-diam meperhatikanya. Pelajaran bahasa masih saja membuat ku bosan, rasanya aku ingin cepat keluar kelas, hingga akhirnya bel berbunyi dan dengan bahagia aku meninggalkan kelas.

                “Kamu! Ya!” teriak seseorang di belakang ku, dan saat aku berbalik aku melihat laki-laki aneh itu berdiri di belakang ku,

                “Ha? Aku?” tanya ku heran

                “Ah, iya kamu, maaf aku berteriak, aku baru sadar kamu pakai headset” sahutnya

                “Ya, ada apa?” tanya ku lagi

                “Apa kamu bisa menyanyi?” tanya nya dengan ekspresi seakan ia mengharapkan aku benar-benar bisa bernyanyi

                “Ya aku bisa, tapi ya aku…” ia memotong pembicaraan ku,

                “Baiklah aku rekomendasikan kamu, dan tolong jangan menolak aku mati kalau kali ini kamu menolak” jawabnya

                “Ee..eh baiklah, sepertinya penting bagimu, memangnya ada apa?” tanya ku heran

                “Aku beritahu lagi besok, aku harus pergi sekarang, terimakasih, besok aku akan mentraktirmu” ia pergi begitu saja.

                Aku berjalan ke kantin dan duduk di tempat favorit ku,

                “Kei, tadi aku lihat kamu dengan D.O, apa yang kalian bicarakan?” tanya Yong eun, sambil duduk di sebelah ku,

                “Entah dia hanya meminta ku membantunya dan pergi begitu saja, lagi pula siapa yang peduli” jawab ku

                “YAAA!!!! Kamu ini!” aku menutup mulut Yongeun, aku sadar semua orang melihat kami karena Yongeun berteriak keras,

                “Keisa! Ayolah masa kamu gatau dia” jawab Yongeun sedikit kesal,

                “Yongeun, sadarlah aku baru satu bulan di kelas ini dan dia hanya masuk satu minggu ini selama aku ada di kelas, gimana aku tahu siapa dia?” tanya ku kesal,

                “Baiklah, anggap aku lupa kalau kamu baru satu bulan di sini, Keisa biar aku  perjelas dia itu nyaris debut, dan dia punya suara yang mungkin bisa buat semua murid di sini lupa dengan makananya” dan menurut ku penjelasan Yongeun sedikit berlebihan, dan apa gunanya laki-laki itu meminta bantuan ku kalau dia memang jago menyanyi, yang ada aku malu menyanyi di depanya,

                “Wow, kalau gitu mungkin aku harus mempertimbangkan lagi tawaranya, bisa-bisa aku di buat malu” jawab ku

                “Memangnya ia minta bantuan apa?” tanya Yongeun penasaran

                “Entahlah tunggu saja besok”

                “Baiklah, sekarang apa yang bisa aku bantu?” tanya ku,

                Kini aku berada di ruangan besar penuh dengan kaca dan nampak nya di satu bangunan yang tak asing bagi ku, tempat ini sering aku lihat di Internet, mungkin harus aku akui dia memang benar-benar idol,

                “Maaf, aku buat kamu bingung, ah dan kita belum berkenalan” sahutnya, ia nampak berbeda dengan pakaian bebas, jauh dari image seorang pelajar korea yang pintar dan sombong, ia memakai celana jeans biru dan kaos hitam juga jaket hitam, nampak lebih normal,

                “Sudahlah, haha lagi pula aku tahu siapa kamu sekarang” jawab ku, berusaha mencairkan suasana

                “Kamu tau aku?” tanyanya

                “Artis yang sebentar lagi debut, dan satu sekolah tahu itu jadi gimana caranya aku ga tahu?” tanya ku,

                “Baiklah, kamu harus membantuku, kamu janji akan membantu ku” jawabnya

                “Membantu mu, tapi apa?” tanya ku penasaran

                “Duet, dengan ku untuk lagu yang akan di gunakan di akhir ujian sekolah” jawabnya,

                “Ha? Acara itu hanya untuk beberapa murid yang di pilih sekolah saja kan?” tanya ku heran

                “Ya, dan nyatanya aku sudah merekomendasikan kamu” jawabnya

                “Ah…lalu kita harus nyanyi apa?” jawab ku

                “Lagu ini… liriknya aku yang ciptakan, musik nya baru ku selesaikan tadi malam, dan ini part yang harus kamu nyanyikan dan ini part ku, dan jangan lupa dengan koreonya” jawabnya seakan semudah itu aku belajar semua ini,

                “Koreo?! Kamu maksud aku akan menari? Aaa! Tidak tidak, aku ga bisa nari” jawab ku panik

                “Lalu apa guna nya aku bawa kamu kesini, jawabnya”

                “Ehh..” aku diam kebingungan,

                “Sudahlah kamu juga sudah di sini lebih baik kita menunggu pelatih saja, sambil kamu mulai menghafal lirik dan musiknya”

                “Baiklah, tapi aku hanya bisa sampai jam 4 sore ini, aku ada latihan” jawab ku

                “Latihan? Tunggu bukanya kamu bilang kamu ga suka nari?” tanya nya heran, aku memang ga suka nari, tapi aku sadar kontrak yang sudah aku tanda tangani membuat ku harus bersahabat dengan hal tersebut,

                “Ee..eh aku lupa, aku mungkin sebenarnya sama kaya kamu” jawab ku

                “Kamu..trainee? juga?” tanyanya kaget

                “Nee, wae? Kamu ga jadi minta bantuan ku?” tanyaku

                “Ani! Ini penting buat ku, jadi kamu tetap membantu ku”

                “Baiklah, ayo mulai latihan” ajak ku

                Hari ini aku mulai mengenalnya, ia menjelaskan pada ku seperti apa trainee, dan mengajarkan ku banyak hal, aku benar-benar tak mengenalnya, ia berbeda dari yang aku kira.

….

                Satu bulan berlalu, banyak hal yang aku mulai mengerti di sini dan mungkin Ji Hyuk akan sedikit marah karena aku menolak menemaninya pergi sebulan ini, aku tahu mungkin kali ini dia masih belum mau bicara dengan ku, jujur saja aku juga sedikit ingin mendengar suaranya lagi, jadi kuputuskan mengetuk pintunya.

                “Ji Hyuk-aa! Ayolah masa marah gini sih!?” keluh ku sambil berusaha mengetuk sekeras mungkin,

                Aku heran ini kan jam delapan malam ga biasanya dia keluar rumah selarut ini, aku tahu siapa dia, aku menyerah, aku turun kelantai bawah dan mencari makanan di luar. Kedai ramen kesukaan ku, biasanya dia ada di sini menemani ku, tapi sebulan ini aku sibuk dan belum lagi bulan depan aku mulai pindah ke apartemen dengan trainee lainya, aku rasa dia akan lebih marah pada ku.

                “Ahjuma, aku minta ramen special nya satu” aku duduk di pojok di sebelah kaca yang langsung mengarah ke jalan besar, di sini aku bisa melihat ramainya kota Seoul meskipun hari sudah nyaris sangat malam, tapi aneh tempat ini masih terasa sepi, ada apa ini kenapa aku rindu dengan Ji Hyuk, aku membatin.

 Setelah selesai makan aku berjalan menuju apartemen ku dan tidak sengaja bertemu dengan Ji Hyuk,

                “Ya!!!!! Tunggu! Ji Hyuk-a!” teriak ku sambil berlari mengejarnya,

                 “Perlukah kamu lari seperti itu?” tanya nya

                 “Kamu masih marah? Aaaa aku minta maaf, baiklah aku akan mentraktir mu!” sahut ku menghiburnya

                  “Aku? Marah? Tidak jelas tidak, aku mengerti keadaan mu” jawabnya sambil menarik ku masuk ke dalam apartemen menuju tangga,

                  “Lalu, kemana kamu setiap hari aku mengetuk pintu mu kamu ga ada” jawab ku kesal

                 “Aku, ah ya aku lupa memberitahu mu, Yongeun ya ya dia” jawabnya, aku mulai terkejut saat dia menyebut nama sahabat ku,

                 “Yongeun? Dia? Kenapa?” tanya ku,

                 “Dua minggu kamu ga masuk dan selama sebulan ini kalian jarang bersama ya?” tanyanya penasaran

                 “Iya, aku belum bertemu Yongeun lagi” jawab ku, “memangnya kenapa?” tanya ku lagi,

                 “Kami berpacaran, kamu bilang aku ini cukup baik untuk punya pacar,

                 aku rasa dia cukup mengerti aku” jawabnya, dengan reflek aku terdiam dan entah seperti ada sebuah mercon yang meledak di dalam otak ku. Aku berjalan dengan penuh perasaan heran, aku diam, aku masuk ke dalam apartemen ku dan kali ini dia yang heran dengan sikap ku. Aku terlentang di kasur ku, meyakin kan hati dan fikiran ku kalau yang aku dengar salah, Yongeun? Kenapa harus dia? Sahabat ku?, tapi apa ini kenapa aku malah seperti ini saat Ji Hyuk bahagia, bukan kah bagus kali ini dia bisa berpacaran, entahlah mungkin hanya perasaan kaget saja.

                Hari –hari berlalu cepat, mungkin Ji Hyuk memang lebih nampak bahagia saat ini, tapi rasanya aku yang masih belum bisa bahagia, kenyataan bahwa aku akan pindah ke apartemen untuk trainee mulai bulan depan pun rasanya semakin membuat ku sesak. Aku berfikir untuk memberitahu Ji Hyuk kepidahan ku, namun aku rasa dia takan begitu peduli, jadi mungkin aku pergi saja dan meninggalkan surat di depan pintunya cukup. Meninggalkan seseorang itu satu hal yang aku benci, dan tepat saat aku meninggalkan pintu itu lagi-lagi aku tahu dia tak ada di rumah, dan aku tahu dia dimana, jadi mungkin kepergian ini jauh lebih baik.

               “Kalian siap? Ayo cepat tunggu di belakang giliran kalian setelah ini” sahut manajer ku, ia nampak sibuk, sangat sibuk hingga ini jadi satu alasan aku tak ingin membuatnya lebih sulit. Aku merapihkan make up ku, sedikit bernyanyi-nyanyi dan berharap aku bisa tampil dengan biasa tanpa perasaan tegang seperti ini,

              “Keisa, kamu gugup?” tanya Hyeyeon,

             “Nee Eonni, aaaa eottokhae?” tanya ku gugup,

              “Kita maju bersama, ber tujuh jadi jangan gugup, yakin aja kalau ini bisa jadi awal yang baik” jawabnya,

             “Eonnie…”

             “Nee, waeyo?” tanyanya,

             “Gomawo” jawab ku, aku merasa sedikit hilang dari kegugupan ku, aku berjalan menuju stage dan kali ini harus menjadi awal yang baik.

Lampu yang gemerlap, panggung yang unik, dan penonton yang berteriak untuk mu, rasanya…mimpi, ya ini mimpi yang baru aku sadari kalau ini nyata kali ini. Aku berdiri di panggung ini, mereka berteriak dengan keras, mengacung-acungkan lightstick nya dan memberikan kami tepuk tangan, aku merasa lega saat musik berhenti dan kami turun dari stage.

           “Eottokhae?” tanya Hyeyeon eonni,

           “Gwenchana..aku senang eonni” jawab ku

           “Wuaaa, jinjja daebak! Aku belum pernah merasakan seperti ini , aku masih belum bisa percaya kiita debut hari ini..!” teriak Ga eun

          “Aku juga! Aku harus telfon ibu ku, aku mau memastikan ia menonton ku kali ini” sahut Fei

Aku duduk di depan cermin, di tempat kami beristirahat, aku melihat handphone ku, menemukan banyak email dan sms yang masuk,

         “Keisaa !!! uri chingu ya!! Daebak… aku sampe streaming sore ini demi kamu… aku bolos kuliah demi liat debut stage kamu! Jangan lupa konser di Indo ya!… regrads:Deandra”

Aku tersenyum salah satu sahabat baik ku, dia sampai bolos kuliah, baiklah mungkin kali ini aku harus sadar banyak yang sayang pada ku, dan senyum ku terhenti sampai aku membaca salah satu pesan dari Ji Hyuk,

         “You…wow chukhae, mian i couldn’t see you, chukhae for your debut stage…”

Sms ini nampak membuat ku tersenyum hingga ahirnya aku meneteskan air mata saat membaca kalimat terakhir…

         “We wish you will have all-kill in every music chart, anyways we’re in jeju now, having a good farewell party here, once more, chukhae… regrads: Ji Hyuk & Yong eun”

                Aku menyimpan handphone ku, aku memandangi diriku di cermin, aku menyadari perasaan ku. Dua tahun ini aku belum pernah bertemu dengan nya lagi, ia hanya rajin mengirimi ku bunga dan coklat, dengan satu surat yang selalu berisi sama,

                “Kalau manajer mu marah, dan melarang mu makan coklat jangan pedulikan, makanlah kalau ka merasa sedih, bosan atau kesal, semoga membuat mu nyaman, semangat ! aku menunggu mu ada di TV ku…Ji Hyuk”

                Kali ini, bukan coklat tapi sesuatu yang lebih menyakitkan. Aku menenangkan diriku, mungkin memang aku hanya bukan untuknya, mengingat mungkin aku takan bisa bersama nya seperti yang lain

                Kepalaku belum berhenti memainkan lagu Se7en sunbae-nim “when i can’t sing”, dan aku masih terdiam di kamar ku, menunggu saatnya alam memanggil ku untuk mulai tidur, entahlah aku hanya merasa kesepian, aku ingin kembali seperti saat semuanya masih normal, hanya itu. Aku meneguk secangkir coklat panas, peduli dengan semua larangan yang ada nyatanya makanan yang kami makan cukup membuat ku frustasi dan turun 10 kg dalam dua minggu, sungguh menyiksa. Aku memandangi foto yang terpajang di meja ku, mungkin aku harus coba untuk berlibur beberapa hari, mengunjungi teman dan lagi-lagi aku terfikir untuk mengunjungi Ji Hyuk. Malam ini semua orang cukup lelah untuk berbincang lebih lama sehingga nampak lebih tenang di sini, aku menyalakan laptop ku dan membuka account twitter lama ku, aku melihat jam, ah aku rasa ini masih jam yang wajar untuk terbangun, aku men tweet

                “testeu..annyeong^^”

                Belum hapir lima menit aku mentweet dan aku melihat banyak mention dari teman-teman ku di Indonesia, akhirnya aku menghabiskan malam ini dengan cara yang cukup menyenangkan.

               “Aa! Kei apa rencanamu natal ini? Apa kamu masih mau diam di sini sendiri, aku rasa aku akan kembali ke Cina, jadi mungkin kali ini aku harus meninggalkan mu di sini sendiri” sahut Seoyun

               “Emm, molla yo jinjja, aku mungkin kembali ke apartemen lama ku, atau mungkin ke Indonesia sudah jangan khawatirkan aku, kita kan hanya pisah satu minggu bukan masalah besar bagi ku” jawab ku

              “Hmm, geundae… kei…?” tanya nya

              “Nee, waeyo?” tanya ku

               “Kemarin ada yang mengirim ini aku baru bertemu dengan mu pagi ini jadi aku baru bisa memberi tahu mu, maaf” sahutnya sambil memberikan sesuatu pada ku

               “Aa gwenchanayo, jinjja gomawo, geundae igeo mwoya?” aku penasaran dan membuka bungkusan tersebut,

              “Molla, aku ke kamar dulu Kei, mau lanjut packing”

              “Nee, gomawoyo” jawab ku, aku membuka bingkisan tersebut, air mata ku menetes, kali ini tak terbendung lagi.

              “Annyeong… Hari ini tepat pertama kali kita bertemu, itu juga kalau kamu ingat, dan ya mungkin surat dan benda ini yang menjadi satu alasan ku untuk selalu ada di sini, dan ingat dengan mu, Kei aku sudah putuskan pindah ke eropa bulan ini, mungkin natal ini aku tak bisa menemani mu di sini ya walau pun aku yakin natal ini kamu juga tetap akan di sana, mintalah member lainya menemani mu, atau mintalah Yogeun menemani mu, ah aku sudah putus dengan yogeun, dia tahu dan aku tahu kalau kami bukan pasangan yang baik, tapi akan lebih baik lagi kalau akhirnya aku jujur pada mu… bukalah scrapbook buatan ku ini, sungguh butuh berbulan-bulan aku membuatnya, rasanya sulit tidak menangis membuatnya, jangan katakan lagi kalau laki-laki itu tidak berperasaan, aku memiliki perasaan…untuk mu…jadi jangan merasa kesepian lagi, aku akan pulang tahun depan itu pun kalau kamu ingin tahu…sudah ya aku sungguh ingin menangis lagi..annyeong, selamat natal!”

                Aku menangis lagi kali ini, sungguh harusnya aku tak pernah membebani nya dengan perasaan ini, seharusnya aku mengunjunginya dulu. Aku menutup scrapbook yang ia berikan, aku melihat sebuah buku musik yang juga ia berikan pada ku, aku membuka buku itu perlahan, secarik kertas dengan tulisan tangan

                “Ah.. kali ini kamu membuka hadiah yang ke dua, lagu ini aku ciptakan sendiri, aku mohon suatu saat kamu menyanyikanya untuk ku”

                Lagu ini, lirik ini, aku bertanya dalam hati ku, mungkin aku takan pernah mampu menyanyikanya, sekalipun untuk orang yang aku cintai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s