chocostar 2

~

 

“Di.. lagi apa?” tanya nya di telfon,

“Lagi iseng belanja mau bikin coklat” jawab ku

“Coklat? Mau dong buatin!”

“Cih ga gratisan tapinya?” jawab ku sambil tertawa

“Ih sama pacar sendiri pelit!”

“Idih siapa yang pacar elu!”

“Yaudah calon pacar gimana?”

“Gimana kamu aja deh cape!”

“Yaudah, bikinin ya”

“Iya, coklat nya pake cococrunch ga apa kan?” tanya ku lagi

“Ih apaan cococrunch kaya gituan rasanya ga enak! Mending honey star!”

“Ih ! apaan honey star kaya makanan bayi tau! Gamau ah!”

“Ah yaudah deh gimana km, siang ini aku jemput kamu ya kita main aku galau”

“Siang ini? Hmm yaudah ayo deh!”

“Yaudah bye…”

             Telfon pun aku tutup aku berdiri di depan rak yang menjual sereal, entah kenapa aku belum pernah suka dengan honey star sejak aku kecil, tapi tangan ku reflek mengambilnya. Satu bulan, dua bulan aku jalani dengan perasaan yang seperti ini, semakin yakin kalau mungkin ini salah, tapi aku manusia yang bisa jatuh hati bahkan dengan sahabat ku sendiri, semakin lama akupun semakin malas untuk menyangkal perasaan ini, apa yang aku lewati terlalu jelas kalau perasaan ini nyata untuku, ia bahkan menghabiskan dua minggu liburan dengan ku, diam di rumah ku menemani adik ku dan selalu mendengarkan ku, bahkan ia rela mengahbisakan waktunya demi mengajari ku kimia di rumah ku, yang aku tahu dia juga harus ulangan Fisika besoknya. Aku terhanyut terlanjur jauh, amat sangat jauh, kali ini aku sadar akan perasaan ku sendiri, tuhan…aku jatuh hati pada sahabatku yang satu ini…tolong izinkan aku…sekali ini.

           Sampai di rumah aku membereskan belanjaan ku, aku membuatkan coklat untuknya satu cup penuh, dan honey star yang tak pernah ku suka meluncur begitu saja ke dalam mulut ku, kali ini aku jatuh hati dengan honey star. Siang ini aku menunggu di kamar ku, aku menunggu nya datang, aku memainkan gitar ku dan bernyanyi…

“cause i’m the one who love you lately…you and me we’ve got this great things~”

“Aduh yang galau mainin lagunya, telat suka sama siapa sih!” seseorang berdiri di depan pintu kamar ku,

“IH! Ngagetin aja, ko bisa masuk?” tanya ku kesal

“Ibu kamu tuh nyuruh aku masuk aja katanya”

“Hmm sini Fi, nih!” aku memberikan satu box coklat yang aku buat

“Ha? Ini apaan?” tanyanya heran

“Lah tadi kan minta di buatin… yaudah aku buatin”

“Di.. ini honey star tau”

“Emang..”

“Kamu kan gasuka?”

“Aku juga ga suka ngasih yang kamu ga suka”

“Makasih ya di..”

Image

             Dia masih memperhatikan box coklat yang aku berikan, entah seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan atau sejenis perasaan yang mungkin dia takan pernah sangka aku bisa seperti ini.

“Di…makasih ya, ini pertama kalinya”

“Iya sama sama pertama kalinya apaan?”

“Pertama kalinya ada yang bikin aku ginian Di, selama ini aku jadia sama Tia, dia selalu janji atau nawarin aku buatin sesuatu tapi ga pernah dia tepatin, entah lupa atau gimana, makanya aku kaget kamu beneran ngasih ginian sama aku Di”

             Aku bingung harus menjawab apa, aku sedikit merasa bahagia kalau benar ini yang pertama baginya tapi aku yakin kalau perasaan dia masih untuk Tia.

“Di, hari ini kerumah Key ya… dia sms aku dia lagi nangis banget dia di putusin Arfie”

Lagi-lagi Key… selalu dia, selalu aja, entah kenapa Key nampak ga pernah suka kalau aku jalan dengan Dafie, dan selama ini dia ga pernah tau kalau aku tau semua masalah Tia dan Dafie, dia hanya berfikir kalau aku berusaha ngerebut Dafie selama ini, hebat.

“Hmm, iya deh ayo aja…”

Hari itu, bukan hanya kesal karena akhirnya rumah Key jadi tempat diam paling ga nyaman, sampai di sana dia ga putus, dia hanya pengen kita kerumah dia. Hari ini aku benar-benar tahu kalau perasaan ku nyata untuk Dafie.

 

~

 

“Di.. emangnya kalian berdua jadian ya?” tanya Tari,

“Ha?! Siapa? Aku ? Dafie? Jadian? Ga ko” jawab ku,

“Di semua anak kelas aku aja tau ko..”

“Seriusan deh Tar ga ada apa-apa ko” jawab ku lagi,

“Tar… aku pengen cerita deh…”

“Apa di?”

“Aku sayang sama Dafie….”

“Di? Kamu sadar kan? Kelas satu kamu ngejek-ngejek bahkan banting pintu pas kita bilang kalian berdua cocok…”

“Aku sadar ko Tar, amat sadar Tar, makanya Key bete liat aku deket Dafie”

“Ah iya Di, kemarin pas kamu ga dateng ke sekre Key ngomongin kamu loh dia bilang kamu ke geeran, dia bilang kamu ngarang cerita”

“Cerita yang mana?” tanya ku sedikit kesal

“Yang kalian berdua nonton terus jalan bareng”

“Tar, coba bayangin dua minggu liburan aku abisin sama dia, dia di rumah aku sampe jam 12 malem, dia nemenin aku malming sampe dua minggu yang lalu pun dia masih ajak aku jalan, siapa cewe yang ga akan ngerasa geer kalau di gituin Tar?” tanya ku kesal,

“Kalian? Sejauh ini? Tapi ga pake pegangan tangan kan?”

“Setau aku itu hal yang wajar walau kayanya orang-orang bener-bener nyangka kita pacaran”

“Di…aku takut…” jawab Tari,

“Takut apa Tar?”

“Takut kalau kamu Cuma pelarian dia…”

Damn hari itu kata-kata Tari cukup buat aku berfikir “Pelarian? Sejahat itu kah? Sahabat aku sendiri?” tanya ku dalam hati.

 

~

 

              Minggu ini ayah ku minta aku pulang ke Jakarta, di sepanjang jalan aku hanya bisa ber chating dengan siapa lagi kalau bukan Dafie, tapi jujur beberapa minggu setelah semua orang heboh dengan hubungan kita yang ga jelas aku makin ngerasa ada tembok yang pelan-pelan dia buat, dan jarak itu semakin jauh.

“Di..cerita dong” sahutnya

“Cerita? Cerita apaan?”

“Itu statuskamu di Fb gitu banget, lagi suka sama siapa sih?”

Aku diam susah untuk ku hanya untuk bales chat,

“Hmm, buat siapa ya? Tar juga tau sih…” jawab ku

“Hmm siapa ih, di aku juga lagi sayang sama orang tapi aku ga yakin” sahutnya tiba-tiba,

“Sayang ? sama siapa?” tanya ku penasaran,

“Sama kamu…”

Aku kaget, jawaban itu mungkin dia bercanda aku menenangkan perasaan ku,

“Ah bercanda aja sih”

“Aku ga bercanda, aku suka sama kamu dari kelas satu, tapi kamu selalu bilang gasuka dan jutek gitu, aku takut aku takut aku gabisa sahabatan lagi sama kamu…” jawabnya,

Perlahan aku meneteskan air mata, andai waktu itu aku ga marah-marah dan bilang kalau  itu gamungkin,

“Ah udah lah Fie jangan bercandaan”

“Aku ga bercanda…kamu suka sama siapa sih? Adit? Balikan lagi kalian?”

“Fie ! sinis  banget sih sama Adit, salah dia apa coba?”

“Ya kamu, nyiksa diri jadian sama dia, ketemuan aja ga pernah, jauh nya ga ada dua masih aja bertahan”

“Kalau gitu coba kamu tanya sama diri kamu sendiri, emangnya cerita kamu ga se pathetic cerita aku ya?”

“Bete ah, bosen kamu nya galau terus”

Aku diam, lagi-lagi dia berhenti dan bilang gitu, “Ayolah sadar aku sayang sama kamu Fie.. tapi aku gatau ceritanyanya gimana?” sahut ku dalam hati,

“Yaudah..”

“Di…cerita ih suka sama siapa? Jujur aja kali..”

“Jujur?” tanya ku dalam hati, apa sebenernya dia udah tau kalau aku sayang sama dia? Aku bingung air mata ku semakin deras, semakin sakit,

“Aku suka sama siapa?…”

“Iya cepetan ih…”

“Hmmm, aku suka sama kamu Fie…” Jawab ku dengan berat hati menjawabnya, lama ia tak membalas, aku tahu ini pasti terjadi, aku tahu resiko nya,

“Di..kenapa kamu suka sama aku?” tanyanya, pertanyaan ini membuat ku bingung setengah mati

“Entah lah Fie, Cuma sayang aja, udah ah gausah di bahas..”

“Hmm yaudah aku mau tidur duluan ya, bye ati-ati di jalanya Di”

“Iya…bye”

              Aku duduk diam dan kebingungan, perasaan ku bercampur aduk, bahkan kini munngkin aku tahu kalau aku akan kehilangan sahabat terbaik ku.

 

~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s